Saturday, 31 October 2015

Pemeriksaan Fisik Jantung

Baiklah sobat, kali ini kita akan membahas mengenai Pemeriksaan Fisik Jantung, pemeriksaan ini terdiri dari Inspeksi, Palpasi, Perkusi, dan Auskultasi. Langsung saja kita masuk ke penjelasannya.


Pertama kali yang perlu kita lakukan adalah meminta pasien untuk tidur dengan kepala sedikit diangkat sekitar 30 derajat (semi-fowler) dan meminta pasien untuk rileks. Jika pasiennya laki-laki maka pakaiannya harus dibuka sampai sebatas pinggang, jika pasiennya perempuan maka pakaiannya harus diatur sedemikian rupa untuk mencegah pemaparan payudara yang tidak perlu dan memalukan dan juga tidak akan mengganggu saat pemeriksaan sedang dilakukan. Setelah itu kita masuk ke proses pemeriksaannya.

A. INSPEKSI

Inspeksi ekspresi wajah
Kita perhatikan ekspresi wajah pasien, apakah pasien tampak seperti menahan sakit, pucat, berkeringat, sesak saat istirahat, adanya tanda sianosis sentral atau anemia di konjunctiva, dan ikterus di sklera.

Inspeksi Anggota Gerak
Kita lihat di bagian lengan dan tungkai pasien apakah ada jari tabuh (clubbing finger), perdarahan sprinter, kulit lengan, kuku, dan sianosis perifer.

Inspeksi Leher

Pada inspeksi leher, kita memperhatikan adakah pelebaran kelenjar tiroid, distensi vena jugularis, dimana pasien berada dalam posisi semi-fowler dengan kepala sedikit dimiringkan menjauh dari sisi yang sedang diperiksa. Penerangan diusahakan berasal dari samping (cahaya tangensial) untuk membentuk bayangan kecil di sepanjang leher, hal ini untuk memungkinkan pengamatan gelombang nadi dengan baik.

Inspeksi Dada

Untuk inspeksi dada, pasien terlebih dahulu diposisikan dalam keadaan nyaman yaitu telentang semifowler. Penerangan harus cukup baik pada dinding dada depan agar inspeksi prekordium dapat dilakukan dengan baik. Yang harus dicari adalah apakah adanya jaringan parut pada dinding dada serta mencari pulsasi pada enam Sea prekordium : sternoklavikular, aortik, pulmonik, ventrikular ekstra, ventrikular sinistra, dan epigastrik.  Lihat pula gerakan dinding dada pasien apakah ada gerakan abnormal.

B. PALPASI

Sebelum melanjutkan pemeriksaan, pastikan pasien masih dalam keadaan nyaman. Baru kita lanjutkan ke pemeriksaan palpasi.

Palpasi Nadi

Sebelum mempalpasi nadi, pastikan tangan pemeriksa hangat dan gunakan tekanan yang ringan-sedang untuk palpasi. Palpasi bisa dilakukan pada arteri karotis, brakhialis, rasialis, femoralis, poplitea, dorsalis pedis, dan tibialis posterior. Arteri-arteri tersebut dekat dengan permukaan tubuh dan terdapat di atas tulang sehingga mudah untuk kita palpasi.

nadi

Palpasi harus dilakukan secara bilateral (setara dan sinkron) di kedua pergelangan tangan dan kita nilai: kecepatan, irama, isi, karakter. Gelombang nadi normal mempunyai dua komponen sistole dan diastole. Denyut radialis biasanya dinilai dalam 15 detik untuk menghitung frekuensi (kali/menit) bila denyutnya reguler. Isi denyut dinilai apakah amplitudonya terasa kecil atau besar. Isi denyut ini merefleksikan isi sekuncup dan curah jantung. Karakter nadi mengacu pada bentuk gelombang nadi, paling baik dinilai di arteri brakhialis atau karotis karena ukuran dan letaknya yang dekat dengan jantung. Jika pemeriksa ingin memeriksa nadi femoralis, cara yang paling baik adalah dengan meminta pasien untuk membuka baju dan berbaring datar, kemudian dengan menggunakan ibu jari, pemeriksa menekan kuat pada titik mid-inguinal, biasanya sekalian diperiksa dengan nadi rasialis untuk menilai apakah nadi rasialis sinkron dengan femoralis. Denyut nadi poplitea terletak di dalam fossa poplitea dan paling baik dipalpasi dengan menekan arteri tersebut ke permukaan posterior ujung distal femur dengan ujung jari kedua tangan. Pasien diminta berbaring telentang dengan lutut menekuk. Posisi perabaan nadi dorsalis pedis dan tibialis terletak pada lokasi anatomi pembuluh darah tersebut.


Palpasi tekanan vena jugularis

Kemampuan menilai fungsi jantung dan volume darah yang dipompakan dapat tergambar melalui penilaian tekanan vena jugularis atau dikenal dengan sebutan jugular venus pressure (JVP). Vena-vena servikalis membentuk satu manometer berisi darah yang berhubungan dengan atrium kanan dan dapat digunakan untuk mengukur tekanan rata-rata atrium kanan. Selain itu, vena-vena servikalis juga dapat memberikan informasi mengenai bentuk gelombang pada atrium kanan. Tinggi tekanan vena rata-rata harus diukur dengan patokan sudut sternum. Umumnya tekanan tersebut setinggi sudut sternum, bila tinggi ≤ 2 cm di atas sudut sternum pada pasien yang berbaring pada sudut 45 derajat, tekanannya dianggap normal.

Pemeriksaan Vena Jugularis

Palpasi iktus kordis

Iktus kordis adalah titik terjauh ke arah kiri dan bawah, tempat terabanya impuls jantung. Bisa ditentukan dengan palpasi menggunakan telapak tangan dan ujung jari dengan pasien berbaring 45 derajat. Iktus kordis normal terletak di sela antar iga ke-5 dan garis midklavikula. Bila teraba jauh ke luar berarti ada pembesaran 1 atau 2 ventrikel atau pergeseran jantung ke arah kiri akibat deformitas torak atau penyakit paru.

iktus kordis
Pemeriksaan Iktus kordis

Penilaian dilanjutkan pada kualitas denyut, iktus kordis yang kuat menunjukkan adanya peningkatan curah jantung. Denyut yang teraba perlu dikonfirmasi dengan menggunakan pemeriksaan bimanual, yaitu meletakkan telapak tangan kiri di batas sternum dengan tangan kanan meraba iktus kordis.

C. PERKUSI

Tindakan perkusi tidak terlalu bermanfaat kecuali dalam menentukan posisi mediastinum pada kasus pergeseran mediastinum akibat hambatan aliran udara atau kolaps paru kanan yang dicurigai melalui anamnesa penyakit paru kronik atau ditemukan bukti melalui pemeriksaan fisik toraks atau paru. Pada perkusi biasanya bunyi hasil ketukan dapat berupa redup jantung dengan membandingkan terhadap lingkungan atau ari sekitarnya.
Artikel Penunjang : Pengertian, Prinsip, dan Metode Pemeriksaan Fisik Umum
Pemeriksaan perkusi jantung sebagai berikut:

Mencari batas jantung relatif dan absolut
  1. Perkusi batas atas jantung : normalnya di ICS III. Perubahan nada perkusi dari sonor menjadi sonor memendek.
  2. Perkusi batas kiri jantung (lateral ke medial) : normalnya di ICS V, satu jari di dalam alinea mid-clavicula. Perubahan nada perkusi dari sonor menjadi sonor memendek.
  3. Perkusi batas jantung kanan (lateral ke medial) : normalnya di Linea Para Sternalis kanan, atau satu-dua jari sebelah kanan mid-sternal Ine. Perubahan nada perkusi dari sonor menjadi sonor memendek, harus diperkusi secara perlahan.
  4. Setelah itu dicari batas jantung absolut, letaknya kira-kira 2 jari di dalam batas jantung relatif. Perkusi dengan perlahan. Perubahan nada dari sonor memendek menjadi berbeda.
  5. Nilai apakah terdapat pembesaran jantung ke kanan atau ke kiri.


D. AUSKULTASI

stetoskop
Stetoskop

Pada pemeriksaan auskultasi, kita menggunakan alat yang bernama stetoskop. Stetoskop berfungsi untuk menyalurkan suara dari dinding dada disertai eksekusi bising lainnya dan memperkuat bunyi berfrekuensi tertentu. Bel dipakai untuk mendeteksi bunyi bernada rendah, sedangkan diafragma dipakai untuk memperkuat bunyi bernada tinggi. Pada awalnya, pemeriksa perlu mendengarkan bunyi di apeks dengan menggunakan bel dan diafragma untuk mencari bising bernada rendah stenosis mitra dan bising pansistolik regurgitasi mitra. Setelah itu mendengarkan pada daerah klasik menggunakan diafragma. Daerah klasik adalah
  • Tepi sternum kiri : bising trikuspid
  • Sela antar iga kedua kiri : bising pulmonal
  • Sela antar iga kedua kanan : bising aorta.



Baiklah sobat, inilah postingan kali ini mengenai Pemeriksaan Fisik Jantung. Semoga bermanfaat bagi semuanya, dan jangan lupa tinggalkan komentarnya J

Pengertian, Struktur Tubuh, Ciri dan Klasifikasi Amfibi

Tags
Selamat datang di softilmu, blog ilmu pengetahuan yang berbagi dengan penuh keikhlasan. Kali ini kami akan berbagi ilmu tentang Amfibi, beberapa topik utama yang akan kami bahas adalah Pengertian Amfibi, Struktur dan Fungsi Tubuh Amfibi, Ciri – Ciri Amfibi, Klasifikasi, dan Sistem Organ Amfibi.

A. PENGERTIAN AMFIBI
Mendengar kata Amfibi, hal pertama yang terpikirkan yaitu “Kodok dan Katak”. Betul sekali, Kodok merupakan salah satu spesies dari kelas amfibi. Nah, apa yang dimaksud dengan amfibi? Istilah amfibi berasal dari bahasa yunani yaitu Amphi yang berarti dua dan bios yang artinya hidup. Jadi, amfibi merupakan hewan vertebrata (bertulang belakang) yang dapat hidup di dua alam, yaitu di air dan di darat.

Menurut para ahli, amfibi merupakan organism vertebrata pertama yang menempati daratan. Amfibi hidup di tempat yang lembab, untuk mengantisipasi hilangnya air dari kulit karena belum memiliki system pengaturan tubuh yang baik. Amfibi juga bersifat poikiloterm yaitu hewan yang berdarah dingin.

B. STRUKTUR DAN FUNGSI TUBUH AMFIBI
Kita telah membahas definisi dari amfibi. Sekarang, kita akan membahas struktur dan fungsi tubuh dari amfibi. Nah, apa aja sih struktur dan fungsi anggota tubuh dari Amfibi.
Jadi, struktur tubuh amfibi terdiri atas kepala dan badan untuk katak. Sedangkan kepala, badan dan ekor untuk salamander. Pada kepala katak terdiri atas kelopak mata dan membrane niktitan. Membrana niktitan yaitu suatu selaput atau membran yang fungsinya melindungi mata katak sewaktu berada di air.
STRUKTUR DAN FUNGSI TUBUH AMFIBI
Pada rongga mulut katak, terdapat lidah yang panjang dan dapat dijulurkan keluar yang fungsinya untuk menangkap mangsa. Di bagian samping kepala katak terdapat mebrana timpani berfungsi sebagai penerima suara dan kemudian diteruska oleh saluran eustachii. Nah, saluran eustachii ini terhubung dengan rongga mulut dan telinga pada katak.
Pada badan katak, terdapat kaki depan yang terdiri atas lengan atas, lengan bawah, telapak tangan dan jari yang berjumlah 4 buah. Sedangkan pada kaki belakang, terdiri atas paha, betis, telapak kaki, jari-jari kaki serta selaput renang yang berada di antara jari-jari kaki. Fungsi dari selaput renang ini yaitu membantu kata berenang sewaktu dalam air.

C. CIRI CIRI AMFIBI
Selain memiliki struktur dan fungsi tubuh yang berbeda dengan kelas vertebrata yang lainnya. Amfibi juga memiliki cirri-ciri khusus. Adapun ciri-ciri dari amfibi yaitu:
  • Tubuh terdiri atas kepala dan badan pada katak dan kepala, badan dan ekor pada salamander.
  • Tubuh amfibi dilapisi oleh kulit yang basah dan berlendir.
  • Amfibi merupakan hewan berdarah dingin (poikiloterm)
  • Jantung amfibi terdiri atas 3 ruangan yaitu 2 atrium dan 1 ventrikel.
  • System pernapasan pada amfibi ketika masih tahap larva (kecebong) menggunakan insang, sedangkan ketika dewasa menggunakan kulit.
  • Mata amfibi memiliki selaput yang disebut dengan membrane niktitan
  • Amfibi berkembang biak dengan bertelur dan fertilisasi secara eksternal.
  • Pertumbuhan amfibi melalui metamorphosis sempurna. Metamorfosis merupakan peristiwan perubahan bentuk tubuh secara bertahap yang dimulai dari tahap larva hingga dewasa.

PERTUMBUHAN AMFIBI
D. KLASIFIKASI AMFIBI
Umumnya kita mengenal amfibi sebagai katak atau kodok. Sebenarnya, kelas amfibi tidak hanya katak atau kodok saja. Tapi, ada beberapa spesies lain yang termasuk ke kelas amfibi. Spesies-spesies tersebut digolongkan menjadi tiga ordo, yaitu Anura, Caudata dan Gymnophiona yang akan dibahas berikut ini.

1. Ordo Anura
Istilah “Anura” mempunyai arti tidak memiliki ekor yang artinya spesies dari ordo ini memiliki cirri umum tidak memiliki ekor. Ciri lainnya yaitu kepala yang bersatu dengan badan sehingga spesies dari ordo ini tidak memiliki leher. Spesies dari ordo ini, memiliki kaki yang lebih besar dan panjang yang fungsinya untuk melompat dan memanjat.

Spesies dari ordo Anura umumnya melakukan fertilisasi ekternal yaitu pembuahan yang dilakukan di luar tubuh induk. Contoh spesies dari ordo ini yaitu Katak dan Kodok. Nah, walaupun bentuk dari katak dan kodok itu sama tapi kedua spesies ini memiliki perbedaan.

Katak memiliki kulit yang halus dan lembab. Katak memiliki paru-paru untuk bernapas. Akan tetapi katak juga dapat menggunakan kulitnya untuk bernapas. Perbedaan lainnya yaitu katak memiliki mata yang menonjol dan dapat ditarik ke dalam. Katak juga lebih banyak menghabiskan waktunya di Air. Contoh yaitu Rana esculenta

Nah, sedangkan saudaranya kodok memiliki kulit yang kasar, berkutil serta kering sehingga mampu hidup di daerah yang kering. Kaki belakang kodok juga lebih pendek dari katak sehingga kodok lebih banyak menggunakan kakinya untuk berjalan.

2. Ordo Caudata
Istilah caudate berasal dari bahasa latin yang memiliki arti ekor. Spesies dari ordo ini hampir semuanya memiliki ekor. Spesies dari ordo caudate memiliki ekor yang hampir sama panjang dengan tubuhnya bahkan beberapa spesies memiliki ekor yang melebihi panjang tubuhnya, contoh yaitu Oedipina.

Ekor yang berkembang dengan baik memungkinkan bagi ordo ini untuk berenang dengan baik pula. Berbeda dengan sepupunya anura, caudata memiliki empat buah kaki yang berfungsi untuk berjalan.
Spesies dari ordo caudate memiliki ukuran tubuh yang bervariasi. Bahkan salah satu spesies dari ordo ini memiliki ukuran mencapai 1,8 meter dan merupakan amfibi terbesar.
Contoh spesies dari ordo ini yaitu Salamander.
SALAMANDER
3. Ordo Gymnophiona
Nah, kita telah sampai di ordo terakhir dari kelas Gymnophiona. Seperti apa bentuk dari ordo gymnophiona? Jadi menurut para ahli  Ordo Gymnophiona atau sesilia dicirikan dengan bentuk tubuh memanjang mirip cacing dan kebanyakan ditemukan di Amerika Selatan, Afrika dan Asia Selatan. Bentuk tubuh dari ordo ini berbeda dengan jenis amfibi lainnya. Sesilia memiliki bentuk tubuh mirip dengan belut atau cacing tanah.

Sesilia hidup di bawah tanah dan di air dan memiliki tengkorak yang kuat sehingga memungkinkan ordo spesies ini untuk menggali hingga jauh ke dalam tanah.
Karena sesilia lebih banyak menghabiskan waktu di bawah tanah sehingga sesilia jarang terlihat oleh manusia. Sesilia juga memiliki mata yang hampir tidak berfungsi yang bentuknya seperti titik di kepala.
SESILIA
E. Sistem Organ Amfibi
Well, last but not the least kita telah sampai di point terakhir dari pembahasan ini yaitu system organ pada amfibi. Agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, amfibi membutuhkan system organ yang baik pula. Sistem organ tersebut terdiri atas system sirkulasi, system pernapasan, system pencernaan, system ekskresi dan system reproduksi yang akan dibahas berikut ini.

1. Sistem sirkulasi
SISTEM SIRKULASI AMFIBI
Sistem sirkulasi pada katak terdiri atas system sirkulasi ganda dan tertutup. Pada sistem sirkulasi ganda darah yang kaya akan Karbon Dioksia dari berbagai jaringan dan organ tubuh mengalir ke sinus venosus menuju atrium kanan. Darah dari atrium kanan mengalir ke ventrikel, kemudian menuju ke arteri pulmonalis dan masuk ke paru-paru. Di paru-paru, karbon dioksida dilepaskan dan oksigen diikat dan darah mengalir ke vena pulmonalis, kemudian menuju atrium kiri. Lalu, dari atrium kiri darah mengalir ke ventrikel. Di dalam ventrikel terjadi pencampuran darah yang mengandung oksigen dengan darah yang mengandung karbon dioksida.  Dari ventrikel, darah keluar melalui traktus arteriosus (batang nadi) ke aorta yang bercabang ke kiri dan ke kanan. Masing-masing aorta ini bercabang-cabang menjadi tiga arteri pokok, yaitu arterior (karotis) mengalirkan darah ke kepala dan ke otak, lengkung aorta mengalirkan darah ke jaringan internal dan organ dalam tubuh, dan arteri posterior mengalirkan darah ke kulit dan paru-paru.

2. Sistem Pernapasan
Sistem pernapasan pada katak terdiri atas insang, paru-paru dan kulit. Ketika katak masih pada tahap larva (kecebong) katak bernapas menggunakan insang. Nah, saat katak masuk tahap dewasa, katak bernapas menggunakan kulit dan paru-paru. Kulit katak yang selalu dalam keadaan basah mengandung banyak kapiler sehingga oksigen mudah berdifusi melalui kulit.

3. Sistem Pencernaan
Sistem pencernaan pada amfibi terdiri atas beberapa saluran. Saluran tersebut terdiri atas mulut, kerongkongan, lambung, usus dan kloaka. Makanan dari mulut masuk ke lambung melalui kerongkongan. Di lambung makanan tersebut dicerna dan kemudia masuk ke usus untuk diserap nutrisinya. Sisa makanan tersebut dikeluarkan melalui kloaka dengan proses defekasi.

4. Sistem Ekskresi
Sistem ekskresi pada amfibi memiliki organ ekresi utama yaitu ginjal. Fungsi ginjal pada amfibi yaitu untuk menyaring darah dan zat zat sisa seperti garam, mineral dan lainnya yang tidak dibutuhkan oleh tubuh. Setelah difiltrasi oleh ginjal, maka zat-zat tersebut akan keluar melalui kloaka dalam bentuk urine dengan proses urinasi.

5. Sistem Reproduksi
Sistem reproduksi pada amfibi terjadi di luar tubuh induk. Maksudnya fertilisasi terjadi di luar tubuh. Ketika katak jantan dan betina kawin, keduanya akan melakukan ampleksus yaitu katak jantan akan melekat pada tubuh katak betina dan menekan perut katak betina. Lalu katak betina akan mengeluarkan ovum ke dalam air melalui kloaka. Setelah katak betina mengeluarkan ovum, katak jantan pun mengeluarkan sperma melalui kloaka. Setelah terjadi fertilisasi eksternal, ovum akan diselimuti oleh cairan kental sehingga berbentuk gumpalan telur.

Nah, itulah pembahasan kita hari ini. Jadi, amfibi itu tidak hanya katak dan kodok saja tetapi ada juga spesies lain yaitu salamander dan sesilia. Banyak orang yang beranggapan terutama kaum hawa bahwa katak dan kodok merupakan hewan yang menjijikkan karena permukaan kulitnya yang basah dan berlendir dan juga berkutil atau kasar. Sebenarnya karena adanya hewan amfibi ini, memberikan inspirasi bagi Insinyur Pesawat terbang untuk menciptakan sebuah pesawat yaitu pesawat amfibi. Pesawat amfibi ini dapat mendarat di darat dan di air. Selain memberikan inspirasi, hewan amfibi ini juga berperan sebagai hewan peliharaan contohnya pada salamander dan sebagai hewan eksperimental di laboratorium contohnya katak dan kodok.

Intinya Tuhan tidak pernah menciptakan suatu makhluk dengan sia-sia. Hewan yang kita anggap menjijikkan pun dapat memberikan inspirasi bagi seorang insinyur untuk menciptakan sebuah pesawat dan sebagai hewan coba di laboratorium yang pastinya hewan-hewan ini mengorbankan hidupnya bagi kesejahteraan manusia. Terimakasih telah berkunjung Semoga ilmunya dapat bermanfaat :) 

Pengertian, Struktur Tubuh, Ciri, dan Klasifikasi Reptil

Tags
Selamat datang di softilmu, blog sederhana yang berbagi ilmu pengetahuan dengan penuh keikhlasan. Kali ini kami akan berbagi ilmun tentang Reptil, Beberapa Pembahasan utama pada postingan kali ini adalah Pengertian Reptil, Struktur Tubuh Reptil, Ciri – Ciri Reptil, dan Klasifikasi Reptil. Semoga Ilmunya dapat bermanfaat.

A. PENGERTIAN REPTIL
Umumnya kita mengenal hewan reptile seperti ular dan buaya. Selain kedua hewan tersebut, masih banyak lagi jenis-jenis reptile di lingkungan sekitar kita. Nah, apa sih definisi dari reptile? Istilah reptile berasal dari kata Reptum yang artinya melata. Reptile juga termasuk tetrapoda yaitu hewan berkaki empat. Jadi, Reptil merupakan organism vertebrata (bertulang belakang) yang melata dan sebagian berkaki empat, memiliki sisik yang menutupi seluruh permukaan tubuhnya dan bersifat poikiloterm (berdarah dingin). Menurut para ahli, reptile merupakan organism pertama yang dapat bertahan hidup di lingkungan yang kering.

B. STRUKTUR DAN FUNGSI TUBUH REPTIL
Kita telah membahas definisi dari Reptil. Sekarang, kita akan membahas struktur dan fungsi tubuh dari Reptil. Nah, apa aja sih struktur dan fungsi anggota tubuh dari Reptil.

Jadi, di sekujur tubuh reptile terdapat sisik yang menutupi seluruh tubuh yang memiliki fungsi untuk melindungi diri dari kekeringan. Selain memiliki sisik di sekujur tubuhnya, reptil juga memiliki kaki-kaki yang pendek disertai ekor yang panjang. Pada setiap kakinya terdapat kuku jari yang tajam yang fungsinya sebagai perlindungan dan pertahanan diri.

Pada bangsa ular, tidak terdapat kaki dan cakar sehingga untuk alat geraknya ular mengerutkan otot di kedua sisi tulang belakangnya. Sebagai alat pertahanan diri sebagian ular dilengkapi bisa contohnya pada King Cobra dan sebagiannya lagi dilengkapi dengan otot yang kuat sehingga dapat melilitkan tubuhnya pada mangsa hingga mangsa tersebut tidak dapat bergerak hingga mati contohnya yaitu pada Phyton.

Nah, yang membuat ular sangat unik dari spesies lainnya yaitu ular dapat menelan mangsanya bulat-bulat yang 2x lebih besar dari besar tubuhnya. Luar biasa bukan? Menurut para ahli, struktur anatomis dari rahang ular melekat dengan longgar sehingga dapat membuka hingga 1500 . Karena itulah bangsa ular, terutama dari kelas piton, anaconda dan sejenisnya dapat memangsa seekor  anak sapi.
STRUKTUR MULUT ULAR
Pada bangsa kadal, sebagai alat pertahanan diri mereka dilengkapi system pertahanan diri secara autotomi. Autotomi yaitu suatu system pertahanan diri dengan cara melepaskan bagian tubuhnya jika dalam bahaya contohnya yaitu cecak yang dapat melepaskan ekornya ketika bahaya. Selain itu, ada pula jenis kadal yang dapat merubah warna tubuhnya menjadi warna yang sama dengan lingkungan sekitar Contohnya yaitu pada bunglon yang dapat berganti warna kulit sebagai kamuflase.

C. CIRI – CIRI REPTIL
Selain memiliki struktur dan fungsi tubuh yang unik dengan kelas vertebrata yang lainnya. Reptil juga memiliki cirri-ciri khusus. Adapun ciri-cirinya yaitu:
  • Reptil memiliki kulit bersisik dan kering yang terbuat dari zat tanduk yang fungsinya untuk melindungi dari kekeringan.
  • Reptil berjalan dengan melata dimana seluruh tubuh menelungkup ke tanah, sedangkan pada bangsa ular bergerak dengan mengerutkan otot di kedua sisi tulang belakang secara bergantian.
  • Reptil memiliki dua pasang kaki dan pada tiap kaki memiliki cakar. Sedangkan pada penyu kakinya memipih berbentuk kayuh untuk membantu ketika berenang.
  • Reptil berkembang biak dengan cara bertelur (ovipar) pada penyu dan bertelur melahirkan (ovovivipar) pada ular boa. Fertilisasi secara internal, alat kelamin jantan disebut sebagai hemipenis.

D. KLASIFIKASI REPTIL
Sekarang kita sudah tahu kalau hewan reptil tidak hanya ular dan buaya saja. Tapi ada hewan-hewan lain yang termasuk ke dalam kelas reptil. Nah, agar kita lebih mudah membedakan hewan-hewan tersebut, para ahli telah mengklasifikasikan mereka ke dalam beberapa ordo. Diantaranya yaitu Squamata, Crocodilia, Chelonia dan Rhynchocephalia yang akan dibahas berikut ini.

1. Ordo Squamata
ORDO SQUAMATA
Squmata merupakan hewan reptil yang umumnya memiliki kulit bersisik. Ordo Squamata merupakan ordo terbesar dari kelas reptil. Sebagian hewan reptil termasuk kedalam ordo squamata. Contohnya yaitu pada bangsa ular dan kadal. Ordo ini terbagi atas 3 subordo, diantaranya yaitu:

a. Subordo Lacertilia
Hewan yang termasuk kedalam subordo ini umumnya memiliki sisik yang bervariasi, bercakar dan bersifat pentadactylus yaitu kaki belakang yang terdiri atas 5 jari dan terdapat selaput renang diantara jari-jari kaki tsb.

Hewan yang termasuk kedalam subordo ini memiliki kelopak mata dan lubang telinga. Selain itu, mereka juga memiliki lidah yang panjang dan dapat dilontarkan untuk menangkap mangsa, contohnya yaitu Bunglon. Adapun kebanyakan hewan dari subordo ini juga bersifat autotomi yaitu dapat melepaskan ekornya ketika ada bahaya contohnya Cecak.

b. Subordo Serpentes
Bangsa ular merupakan jenis hewan yang termasuk ke dalam subordo ini. Subordo ini dikenal dengan keunikannya yaitu tidak memiliki kaki. Cirri lainnya yaitu mereka tidak memiliki kelopak mata sehingga kelopak mata tsb digantikan oleh selaput transparan yang fungsinya untuk melindungi mata.
Keunikan lain dari subordo ini yaitu mereka memiliki thermosensor, organ perasa (tactile organ) dan organ Jacobson sebagai reseptornya sehingga bangsa ular memiliki penciuman tajam yang peka terhadap rangsangan kimia di rongga hidungnya. 

Sebagian dari bangsa ular memiliki taring bisa yang fungsinya sebagai pertahanan dan melumpuhkan mangsa.

c. Subordo Amphisbaenia
Subordo Amphisbaenia tidak berkaki namum memiliki kenampakan seperti cacing karena warnanya yang agak merah muda dan sisiknya yang tersusun seperti cincin. Karena kerap menghabiskan waktu di bawah tanah, sehingga sedikit sekali informasi yang bisa di dapat dari hewan reptil ini.

Kepalanya bersatu dengan lehernya, tengkorak terbuat dari tulang keras, memiliki gigi median di bagian rahang atasnya tidak memiliki telinga luar dan matanya tersembunyi oleh sisik dan kulit. Tubuhnya memanjang dan bagian ekornya hampir menyerupai kepalanya, contoh dari hewan ini yaitu wormlizards

2. Ordo Crocodilia
ORDO CROCODILIA
Bangsa buaya merupakan termasuk dari ordo ini. Ordo crocodilian memiliki sisik yang tebal dan terbuat dari keratin yang diperkuat dengan lempengan tulang yang disebut skuta sebagai pelindung. Berbeda dengan ular, sisik pada buaya rontoh satu persatu. Buaya juga memiliki otot yang kuat pada ekornya. Kepala pada ordo crocodilian berbentuk piramida, keras dan kuat disertai dengan gigi yang runcing untuk mencabik-cabik mangsanya. Contoh dari ordo ini yaitu Buaya Air Tawar, Buaya Air Asin dan berbagai jenis bangsa buaya lainnya.

3. Ordo Chelonia
ORDO CHELONIA
Ordo chelonian merupakan hewan reptilian yang memiliki cangkang, tubuh yang pendek dan lebar dilindungi karapas dan plaston, tidak bergigi dan lidah tidak dapat menjulur. Cangkang pada ordo ini merupakan bagian dari tulang belakang dan modifikasi dari tulang rusuk yang memiliki fungsi untuk pertahanan serta perlindungan dari predator. Nah, cangkang bagian atas dari chelonian disebut dengan karapaks sedangkan bagian bawahnya disebut dengan plaston. Contoh hewannya yaitu Kura-kura dan penyu.

4. Ordo Rynchochephalia
Nah, ini merupakan ordo terakhir dari kelas reptil. Hewan yang termasuk ke dalam ordo ini yaitu Tuatara dan satu satunya spesies yang termasuk ke dalam ordo ini. Dikabarkan bahwa tuatara ini telah hidup sejak zaman dinosaurus. Tuatara ini berasal dari pulau lepas pantai di Selandia Baru. Cirri-ciri dari tuatara sendiri yaitu memiliki duri yang berderet di sepanjang tulang belakang dan memiliki mata ketiga yang berfungsi untuk mengenali perbedaan antara gelap dan terang.

E. SISTEM ORGAN REPTIL
Nah, kita telah sampai pada point terakhir dari pembahasan hari yaitu system organ reptilian. Untuk dapat mencari mangsa dan bertahan hidup reptilian membutuhkan system organ yang baik. Apa saja system organ tersebut? System organ tersebut terdiri atas system sirkulasi, sistem pernapasan, sistem pencernaan, sistem ekskresi dan yang terakhir sistem reproduksi untuk melanjutkan keturunannya. Sistem organ tersebut akan dibahas berikut ini.

1. Sistem Sirkulasi
Kelas reptilian memiliki sistem sirkulasi yang lebih maju dari kelas amfibi. Jantung reptilian terbagi atas empat ruangan yaitu atrium kanan, atrium kiri, ventrikel kanan dan ventrikel kiri serta sebuah sinus venosus. Sistem sirkulasi pada reptil termasuk sistem sirkulasi ganda yang artinya darah yang miskin akan oksigen masuk ke jantung melalui sinus venosus ke atrium kanan lalu ke ventrikel kanan. Lalu darah tersebut dipompa ke paru-paru. Nah, darah yang kaya akan oksigen yang berasal dari paru-paru masuk ke atrium kiri dan kemudian masuk ke ventrikel kiri. Darah dari ventrikel kiri dipompa keluar melalui aorta menuju seluruh tubuh.

2. Sistem pernapasan
Selain memiliki sistem sirkulasi yang lebih maju dari amfibi, reptil juga memiliki sistem pernapasan yang lebih maju juga dari reptil. Umumnya amfibi bernapas menggunakan paru-paru. Udara dari luar masuk melalui lubang hidung-trakea-bronkus dan terakhir ke paru-paru.
Anatomis paru-paru dari setiap reptil berbeda-beda. Pada paru-paru buaya, kadal dan kura-kura lebih kompleks dengan beberapa belahan yang membuat paru-paru tsb terlihat seperti spons. Pada beberapa jenis kadal seperti bunglon afrika, mempunyai kantung hawa sehingga hewan tersebut dapat melayang di udara.

3. Sistem pencernaan
Sistem pencernaan pada reptil terdiri atas beberapa saluran dan kelenjar pencernaan. Nah, saluran tersebut terdiri atas mulut, kerongkongan, lambung, usus dan kloaka. Sedangkan kelenjarnya terdiri atas kelenjar ludah, pancreas dan hati. Makanan dari mulut yang telah dilumasi oleh kelenjar ludah masuk ke kerongkongan dan kemudian masuk ke lambung. Di lambung makanan ini dicerna dan kemudian menuju usus untuk diserap nutrisinya. Nah, sisa sisa dari makanan tersebut dibuang melalui kloaka dalam bentuk feses (tinja) dengan proses defekasi.

4. Sistem ekskresi
Sistem eksresi pada reptil berupa ginjal, paru-paru dan kulit dan kloaka. Fungsi ginjal yaitu untuk menyaring zat-zat yang tidak dibutuhkan sisa hasil metabolisme tubuh dan mengeluarkannya dalam bentuk urine melalui kloaka. Reptil yang hidup di darat sisa hasil metabolismenya berupa asam urat yang dikeluarkan dalam bentuk setengah padat yang berwarna putih.

5. Sistem Reproduksi
Sistem reproduksi pada reptil tergolong unik. Mengapa? Karena ada beberapa jenis reptil yang bersifat ovipar (bertelur) dan ovovivipar (bertelur-beranak). Contoh dari hewan yang bersifat ovovivipar yaitu pada ular dan beberapa jenis kadal. Telur-telur ular dan kadal tersebut menetas dalam tubuh induknya. Akan tetapi makanan mereka diperoleh dari cadangan makanan yang ada dalam telur, berupa kuning telur. Perbedaan dengan amfibi yaitu fertilisasi terjadi secara internal atau terjadi dalam tubuh betina.

Pada saat musim kawin, penis dari jantan dimasukkan ke dalam saluran kelamin betina. Ovum yang telah dibuahi akan melalui oviduct dan akan dikelilingi oleh cangkang yang tahan air. Pada kebanyakan jenis reptil telur tersebut akan ditinggalkan di tempat yang hangat oleh induknya., sedangkan induknya menjaga telur tsb dari jauh. Dalam telur terdapat persediaan kuning telur yang melimpah sebagai cadangan makanan.

Nah, itulah pembahasan kita pada hari ini. Indonesia tidak hanya kaya akan flora dan budayanya. Akan tetapi juga kaya akan faunanya, contohnya pada reptil. Sebagian besar dari reptil yang telah di bahas berasal dari Indonesia. Indonesia juga memiliki salah satu spesies reptil yang mendunia dan hanya terdapat di Indonesia. Reptil tersebut yaitu Komodo. Komodo merupakan kadal terbesar di dunia dan terdapat di Pulau Flores, NTT.

Selain itu, fakta unik dari reptil yaitu jenis kelaminnya. Pada buaya, telur buaya yang menetas jenis kelaminnya bergantung pada suhu lingkungannya. Jika suhu lingkungannya hangat, maka bayi-bayi buaya yang menetas berjenis kelamin jantan begitupun sebaliknya.

Reptil dari bangsa ular dapat bertahan hidup tanpa makan selama berminggu-minggu, bulanan bahkan tahunan tergantung seberapa besar mangsa yang di dapat. Hal ini dikarenakan metabolism pada tubuh reptil berjalan lambat sehingga mereka membutuhkan bantuan sinar matahari dengan cara berjemur pada saat-saat tertentu.

Peran reptil untuk manusia yaitu sebagai predator bagi hama tikus, nilai estetika untuk kulit buaya dan ular, serta sebagai hewan peliharaan bagi beberapa kalangan.

Nah itulah pembahasan kali ini tentang Reptil, semoga ilmunya dapat bermanfaat. Jika masih ada yang belum dimengerti, silahkan sahabat tanyakan melalui kotak komentar di bawah, kami  akan berusaha merespon dengan cepat dan tepat. Terimakasih telah berkunjung di softilmu, jangan lupa like follow dan komentarnya J.

Pengertian dan Pengukuran Data Antropometrik

Baiklah sobat, kali ini kita akan membahas mengenai Pengertian, Pengukuran dan Data Antropometrik. Data antropometrik ini terdiri dari Berat Badan (BB), Tinggi Badan (TB), Rasio Berat Badan Menurut Tinggi Badan (BB/TB), Lingkar Lengan Atas (LILA), Tebal Lipatan Kulit (TLK; skinfold thickness), Lingkaran Kepala, Lingkaran Dada dan Lingkaran Perut. Langsung saja kita akan masuk ke topik pembahasan kita.

Note : untuk tabel antropometri lengkap bisa download disini

Sebelum kita mengukur nilai antropometri, pertama kita harus mengetahui definisi dari antropometri itu sendiri. Antropometri adalah ilmu yang mempelajari pengukuran dimensi tubuh manusia (ukuran, berat, volume, dan lain-lain). Antropometri ini biasanya dilakukan pada anak-anak.

antropometri


A. Berat Badan (BB)

Berat badan adalah parameter pertumbuhan paling sederhana, mudah diukur, pengukuran ulangnya juga mudah, dan bisa sebagai indeks status nutrisi sesaat. Beberapa keadaan sakit pada anak bisa mempengaruhi berat badan, contohnya jika ada edema, organomegali, hidrosefalus, dan sebagainya. Jika terdapat keadaan seperti itu, maka indeks antropometri dengan menggunakan berat badan tidak dapat dipakai untuk menilai status nutrisi. Untuk evaluasi diperlukan data antropometrik lainnya yaitu kue yang tepat, jenis kelamin, dan acuan standar. Hasil pengukuran berat badan dipetakan pada kurva standar berat badan/umur (BB/U) dan berat badan/tinggi badan (BB/TB).

download tabel antropometri disini

Interpretasi:
BB/U dibandingkan acuan standar, dinyatakan dalam persentase
  • >120% disebut gizi lebih
  • 80-120% disebut gizi baik
  • 60-80% tanpa edema: gizi buruk ; dengan edema : gizi buruk (kwasiorkor)
  • <60% gizi buruk, tanpa edema (marasmus); dengan edema (marasmus-kwasiorkor)

Perubahan berat badan (berkurang atau bertambah perlu mendapat perhatian, karena merupakan petunjuk adanya masalah nutrisi akut. Kehilangan berat badan dapat dihitung berdasarkan rumus (BB saat ini / BB semula) x 100%. Interpretasinya:
  • 85-95% : kehilangan BB ringan (5-15%)
  • 75-84% : kehilangan BB sedang (16-25%)
  • <75% : kehilangan BB berat (>25%)


B. Tinggi Badan (TB)

Tinggi badan anak harus diukur pada tiap kunjungan. Pengukuran tinggi badan adalah sederhana, mudah, dan apabila dikaitkan dengan hasil pengukuran berat badan akan memberikan informasi yang mempunyai makna tentang status nutrisi dan pertumbuhan fisik anak.

Sama seperti pengukuran berat badan pengukuran tinggi badan juga membutuhkan informasi mengenai umur yang tepat, jenis kelamin, dan baku yang diacu. Tinggi badan dipetakan pada kurva tinggi badan atau dihitung berdasarkan standar baku dan dinyatakan dalam persen.

Interpretasi
(1) TB/U pada kurva
  • <sentil 5 : defisit berat
  • Sentil 5-10 : perlu evaluasi untuk membedakan apakah perawakan pendek akibat defisiensi nutrisi kronik atau konstitusional

(2) TB/U dibandingkan standar baku (%)
  • 90-110% : baik/normal
  • 70-89% : tinggi kurang
  • <70% : tinggi sangat kurang


C. Rasio Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB)

Rasio BB/TB bila dikombinasikan dengan berat badan menurut umur dan tinggi badan menurut umur sangat penting dan lebih akurat dalam penilaian status nutrisi karena ia akan memberikan gambaran proporsi tubuh serta dapat membedakan antara wasting dan sunting atau perawakan pendek. Indeks ini digunakan pada anak perempuan hanya sampai tinggi badan 138 cm, dan pada anak lelaki sampai tinggi badan 145 cm. Setelah itu rasio BB/TB tidak begitu banyak artinya, kena adanya percepatan tumbuh (growth spurt). Keuntungan indeks ini adalah tidak diperlukannya faktor umur, yang sering kali tidak diketahui secara tepat.

BB/TB dinyatakan dalam persentase dari BB standar yang sesuai dengan TB terukur individu tersebut. Cara perhitungannya adalah:

BB/TB (%) = (BB terukur saat itu)/(BB standar sesuai untuk TB terukur) x 100%
 Interpretasi:
(1) Penilaian status gizi berdasarkan persentase TB/BB
  • >120% : obesitas
  • 110-120% : overweight
  • 90-110% : normal
  • 70-90% : gizi kurang
  • 70% : gizi baik


D. Lingkar Lengan Atas (LILA)

Pada anak berumur 1-5 tahun, LILA saja sudah dapat menunjukkan status gizi.
Interpretasinya:
  • <12,5 cm : gizi buruk
  • 12,5 – 13,5 cm : gizi kurang
  • >13,5 cm gizi baik

Bila umur tidak diketahui, status gizi dinilai dengan indeks LILA/TB
Interpretasi:
  • >85% : gizi baik (normal)
  • 80-85% : borderline / kurang kalori protein (KKP) I
  • 75-80% : gizi kurang / KKP II
  • <75% : gizi buruk / KKP II


E. Tebal Lipatan Kulit (TKL; skinfold thickness)

Hampir 50% lemak tubuh berada di jaringan subkutan hingga dengan mengukur lapisan lemak dengan pemeriksaan TLK dapat diperkirakan jumlah lemak total dalam tubuh. Hasilnya dapat menunjukkan status gizi dan komposisi tubuh, serta cadangan energi. Bila dikaitkan dengan indeks BB/TB, ia dapat menentukan malnutrisi kronik. LILA yang dikaitkan dengan nilai (TLK)-triseps, dapat dipakai menghitung massa otot.

F. Lingkaran kepala, lingkaran dada, dan lingkaran perut

Lingkaran kepala dipengaruhi oleh status gizi pada anak sampai usia 36 bulan. Pengukuran rutin dilakukan untuk menjaring kemungkinan adanya penyebab lain yang dapat memengaruhi pertumbuhan otak; pengukuran berkala lebih memberi makna daripada pengukuran sewaktu. Hasil pengukuran dipetakan dalam grafik standar.

Interpretasi:
  • Lingkaran kepala <sentil ke-5 atau <-2SB menunjukkan adanya mikrosefalia, dan kemungkinan malnutrisi kronik pada masa intrauterin atau masa bayi/anak dini.
  • Lingkaran kepala >sentil ke-95 atau >+2SB menunjukkan adanya makrosefali.


Lingkaran dada diperiksa pada bayi baru lahir serta setiap kunjungan sampai usia 2 tahun. Pada bayi baru lahir lingkaran dada 2 cm lebih kecil dari lingkaran kepala, kemudian berangsur sama atau sedikit lebih besar dari lingkaran kepala setelah usia 2 tahun. Lingkaran dada diukur dengan pita pengukur, melingkari tubuh setinggi puting susu.

Lingkaran perut diukur bila terdapat asites untuk menilai progresivitasnya. Lingkaran perut diukur pada posisi duduk atau berdiri, kecuali jika pasien sakit berat atau bayi maka boleh dalam posisi tidur. Pengukuran dilakukan pada lingkaran perut terbesar, pada umumnya melalui umbilikus.


Baiklah sobat, inilah postingan kita kali ini mengenai Pengertian, Pengukuran dan Data Antropometrik. Semoga bermanfaat bagi teman-teman semua. J