Friday, 5 May 2017

Interaksi Sosial - Pengertian, Fungsi, Syarat dan Ciri-ciri

Baiklah sobat softilmu, kali ini kita akan membahas mengenai Interaksi Sosial. Langsung saja kita masuk ke pembahasannya.

A.     PENGERTIAN
Di dalam kehidupan sehari-hari, tentunya antara sesama manusia akan saling berinteraksi, baik itu secara individu dengan individu, individu dengan kelompok, maupun kelompok dengan kelompok. Interaksi tersebut diperlukan untuk menunjang kehidupan manusia sebagai makhluk sosial.
Ada beberapa pengertian interaksi sosial yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya adalah :
1.      Menurut Homans ( dalam Ali, 2004: 87, interaksi sebagai suatu kejadian ketika suatu aktivitas yang dilakukan oleh seseorang terhadap individu lain diberi ganjaran atau hukuman dengan menggunakan suatu tindakan oleh individu lain yang menjadi pasangannya.
2.      Menurut Bonner ( dalam Ali, 2004), interaksi sosial merupakan suatu hubungan antara dua orang atau lebih individu, dimana kelakuan individu mempengaruhi, mengubah atau mempengaruhi individu lain atau sebaliknya.
3.      Broom dan Selznic, mengemukakan bahwa pengertian interaksi sosial adalah proses bertindak yang dilandasi oleh kesadaran adanya orang lain dan proses menyesuaikan respon (tindak balasan) sesuai dengan tindakan orang lain.
4.      Kimball Young dan Raymond W. Mack, interaksi sosial menurut Kimball Young dan Raymond W. Mack adalah hubungan sosial yang dinamis dan menyangkut hubungan antarindividu, antara individu dengan kelompok maupun antara kelompok dengan kelompok lainnya.
Interaksi sosial diperlukan di dalam kehidupan sehari-hari. Interaksi sosial merupakan sebuah fondasi di dalam hubungan bermasyarakat dengan berdasarkan norma dan nilai yang berlaku di dalam masyarakat tersebut. Maka, interaksi sosial akan terwujud dengan baik jika nilai dan norma itu dapat dipatuhi dan diterapkan di dalam interaksi sosial.

interaksi sosial

Interaksi sosial bukan hanya sebatas pertemuan dua fisik manusia atau lebih, tetapi interaksi sosial bisa bermanifestasi dengan komunikasi di dalamnya. Artinya, tidaklah dikatakan interaksi sosial jika di dalamnya tidak ada hubungan komunikasi yang baik oleh karena itu, interaksi sosial merupakan dasar dari suatu proses sosial. Karena tanpa adanya interaksi sosial dan komunikasi yang dibangun di dalamnya, maka tidak dapat kita sebut dengan interaksi.

B.      FUNGSI
1.      Menjalankan kehidupan sosial
Kehidupan sosial akan terjaga jika antar makhluk hidup terdapat interaksi sosial. Interaksi sosial menjamin terselenggaranya kehidupan sosial yang sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di dlaam kehidupan bermasyarakat.
2.      Menjalin tali silaturrahmi
Sebagai makhluk sosial, silaturrahmi bukan hanya sebagai teori semata. Akan tetapi, silaturrahmi sangat dibutuhkan di dalam kehidupan bermasyarakat. Silaturrahmi yang terjaga akan sangat membantu hidup seseorang, sehingga dengan adanya silaturrahmi, kehidupan seseorang tidak dijalankan secara individualism.
3.      Melakukan Kerja Sama
Demi memenuhi kebutuhan hidup, makhluk hidup membutuhkan kerja sama yang baik, baik di dalam ruang lingkup keluarga maupun rekan kerja. Kerja sama yang baik akan dibuktikan dnegan adanya interaksi sosial yang baik.
4.      Menjalin Hubungan Usaha
Sebenarnya, antara menjalin kerja sama dengan menjalin hubungan usaha didapat hubungan yang timbal balik. Hubungan usaha akan gagal jika tidak diikuti dengan kerja sama yang baik. Begitu juga sebaliknya, jika kerja sama dilakukan dengan baik, maka hhubungan usaha akan terjalin sesuai dengan yang diharapkan.
5.      Mendiskusikan Persoalan
Manusia di dalam hidup pastinya tidak terlepas dari berbagai persoalan. Persoalan-persoalan itu mampu membangun jiwa seseorang menjadi lebih baik. Tidak ada manusia yang tidak mempunyai persoalan atau masalah di dalam hidupnya. Maka fungsi interaksi sosial sangat diperlukan untuk menunjang penyelesaian persoalan tersebut.

C.      SYARAT-SYARAT
Dalam melakukan interaksi sosial, maka dibutuhkan syarat-syarat untuk menunjang kegiatan tersebut. Adapun syarat-syarat interaksi sosial menurut Soerjono Soekanto adalah :
1.      Kontak Sosial
Secara harfiah, kata kontak berarti sama-sama menyentuh. Akan tetapi, dalam konteks sosiologi, kontak sosial berarti suatu proses awal yang terjadi antara satu pihak dengan pihak yang lain, baik itu terjadi secara langsung maupun tidak langsung.
Di dalam kehidupan sehari-hari, manusia senantiasa melakukan kontak sosial. Hal ini dapat dicerminkan ketika terjadi komunikasi antara individu yang satu dengan individu lainnya. Ini juga berarti, kontak sosial di dalam sosiologi bukan hanya berarti kontak secara langsung, akan tetapi, juga bisa terjadi secara tidak langsung. Adapun klasifikasi dari kontak sosial ialah sebagai :
-         Kontak Sosial dapat bersifat positif maupun negative. Contohnya, ketika terjadi suatu pertemuan antara pengusaha A dengan pengusaha B, maka dihasilkan suatu hasil yang memuaskan (kontak sosial positif). Sedangkan ketika suatu pengusaha A bertemu dengan pengusaha B, tetapi malah menimbulkan konflik, maka itu digolongkan ke dalam kontak sosial bersifat negative.
-         Kontak sosial juga dapat bersifat primer maupun sekunder. Kontak sosial primer terjadi jika suatu individu bertemu secara tatap muka dengan individu lainnya. Sedangkan kontak sosial sekunder terjadi jika suatu individu melakukan kontak, tetapi tidak bertemu secara tatap muka, bisa melalui telepon, surat, dan lain-lain.

2.      Komunikasi
Komunikasi di dalam interaksi sosial terjadi sesudah kontak sosial berlangsung. Artinya, komunikasi tidak dapat terjadi tanpa didahului dengan kontak sosial. Hal yang sangat ditekankan melalui proses komunikasi ialah adanya kegiatan saling menafsirkan, baik itu gerakan, perilaku, atau sikap, serta perasaan-perasaan yang disampaikan. Terdapat 5 unsur pokok yang berperan di dalam proses komunikasi, yaitu komunikator (orang yang menyampaikan pesan, perasaan, ataupun gerakan kepada orang lain), komunikan (orang yang menerima pesan, pikiran, maupun gerakan), pesan (sesuatu yang disampaikan oleh komunikator, baik itu berupa pesan, perasaan, pikiran, gerakan, dan lain-lain), media (alat untuk menyampaikan pesan), dan efek (perubahan yang diharapkan terjadi pada komunikan setelah menerima pesan).
Di dalam proses komunikasi, terdapat juga 3 tahap penting yang berperan, yaitu :
-         Encoding, yaitu proses untuk mempersiapkan gagasan atau pesan yang ingin disampaikan oleh komunikator kepada komunikan. Disini, komunikator harus memilih pesan yang tepat agar efek yang ditimbulkan juga tepat.
-         Penyampaian, yaitu proses penyampaian gagasan atau pesan yang telah dipersiapkan pada proses encoding untuk disampaikan kepada komunikan.
-         Decoding, yaitu proses pencernaan dan tahap penerimaan gagasan atau pesan yang dilakukan oleh komunikan.

D.     CIRI-CIRI
Menurut tim sosiologi (2002), ada 4 ciri-ciri pada interaksi sosial, yaitu :
1.      Jumlah pelakunya lebih dari 1 orang
Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, interaksi sosial terjadi antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, maupun kelompok dengan kelompok. Interaksi sosial tidak mungkin terjadi jika hanya dilakukan oleh satu orang saja.
2.      Terjadinya Komunikasi
Interaksi sosial membutuhkan kontak sosial yang di dalamnya terdapat komunikasi antar pelaku interaksi sosial. Diharapkan dengan terjadinya komunikasi pada interaksi sosial, dapat memberikan efek yang diinginkan oleh pemberi pesan.
3.      Mempunyai maksud dan tujuan yang jelas
Pada proses komunikasi, terdapat 3 tahap penting. Salah satu tahap tersebut adalah encoding, dimana komunikator harus memilih pesan yang akan disampaikan kepada komunikan, sehingga efek yang ingin ditimbulkan akan terjadi.
4.      Adanya dimensi waktu
Di dalam interaksi sosial juga didapatkan ciri berupa adanya dimensi waktu, baik itu masa lampau, masa sekarang, maupun masa depan, yang akan menentukan sikap atas pesan yang disampaikan.

E.      FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
1.      Imitasi
Imitasi ialah suatu tindakan atau usaha untuk meniru tindakan orang lain sebagai panutannya. Imitasi pertam akali terjadi di dalam keluarga, dimana sang anak cenderung untuk mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang tuanya. Namun, saat anak tersebut beranjak remaja, maka lingkungan sangat berperan, karena sebagian besar waktu mereka dihabiskan di lingkungannya, contohnya sekolah.
2.      Sugesti
Sugesti merupakan kemampuan seseorang untuk memberikan pengaruh kepada orang lain agar usahanya untuk mempengaruhi tersebut berjalan matang. Proses sugesti berusaha untuk mempengaruhi orang lain secara cepat tanpa berpikir panjang. Biasanya, orang-orang yang ampuh memberikan sugesti merupakan orang yang terkenal, berwibawa, atau disegani di lingkungan tempat dia berada. Contohnya ketika seorang gubernur mengatakan kepada jajarannya untuk memakai batik pada hari Jumat.

3.      Identifikasi
Identifikasi merupakan sebuah proses dalam diri seseorang yang ingin mengikuti dan menjadi sama dengan orang lain yang menurut dia adalah tokoh inspiratifnya. Identifikasi mengakibatkan terjadinya efek yang lebih dalam daripada sugesti dan imitasi, dikarenakan proses identifikasi dilakukan dalam keadaan sadar. Contohnya ketika seorang wanita meniru gaya rambut, gaya berpakaian, dan gaya hidup yang dilakukan oleh artis-artis ibukota.

4.      Simpati
Merupakan suatu proses ketertarika seseorang kepada orang lain karena nilai-nilai perbuatan, norma, dan pola pikirnya sama dengan nilai-nilai yang dianut oleh yang menaruh simpati. Perasaan simpati dapat disampaikan oleh seseorang individu kepada individu lainnya, individu kepada kelompok, maupun kelompok kepada kelompok. Contohnya ketika terjadi musibah kebakaran pada rumah seseorang, maka tetangganya memberikan bantuan tempat tinggal sementara bagi orang tersebut.

5.      Motivasi
Merupakan sebuah usaha yang dilakukan baik oleh individu maupun kelompok kepada individu atau kelompok lainnya dengan tujuan agar mereka dapat menuruti dan mendapatkan semangatnya kembali. Contohnya saat seseorang mendapatkan nilai yang buruk saat ujian akhir, maka dosen walinya memberikan sedikit motivasi agar muridnya tersebut kembali rajin belajar.

6.      Empati
Empati hampir mirip dengan simpati, akan tetapi, proses empati lebih dalam lagi daripada simpati. Empati bukan hanya terletak pada factor kejiwaan saja, tetapi juga mencakup perasaan organisme tubuh yang sangat dalam. Proses empati sangat dibutuhkan untuk mengetahui dan merasakan perasaan yang dirasakan orang lain, sehingga seolah-olah yang memberikan empati juga merasakan perasaan yang sama.

F.      BENTUK-BENTUK
Hubungan yang terjadi di dalam kehidupan bermasyarakat tentunya tidak hanya sebatas untuk memberikan keuntungan, memberikan kerja sama, atau hal-hal positif lainnya. Akan tetapi, dalam kenyataannya, manusia juga melakukan interaksi sosial dengan melakukan pertikaian, peperangan, dan hal-hal negative lainnya. Oleh karena itu, proses  interaksi sosial memiliki dua kecendrungan yang saling bertolak belakang. Maka sesuai dengan kenyataan tersebut, maka interaksi sosial dapat digolongkan ke dalam bentuk penyatuan (asosiatif) dan bentuk pemisahan (disosiatif).
1.      Bentuk asosiatif
Seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa proses asosiatif merupakan sebuah bentuk interaksi sosial yang menghasilkan hal positif. Berikut adalah macam-macam dari bentuk asosiatif, yaitu :
a.      Kerja sama (Cooperation)
Kerja sama merupakan suatu usaha baik itu antar individu maupun kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Kerja sama kaan timbul apabila antar individu atau kelompok yang ingin melakukannya memiliki tujuan yang sama. Di samping itu, mereka juga harus memiliki pengetahuan dan pengendalian yang cukup, dengan tujuan untuk melakukan organisasi terhadap anggotanya untuk sama-sama memahami tujuan tersebut. Ada beberapa bentuk kerja sama, antara lain :
-         Bargaining, merupakan sebuah pelaksanaan perjanjian antara dua organisasi atau lebih mengenai pertukaran barang atau jasa.
-         Kooptasi, merupakan proses penerimaan unsur-unsur baru di dalam sebuah organisasi agar proses jalannya organisasi tersebut sesuai dengan yang diharapkan atau bertambah baik lagi. Dengan kata lain, kooptasi diperlukan untuk emnghindari keguncangan atau konflik yang dapat menghancurkan popularitas organisasi atau kelompok.
-         Koalisi, merupakan proses perjanjian antar dua organisasi atau lebih yang memiliki tujuan yang sama. Namun, di dalam koalisi memungkinkan untuk terjadinya keadaan yang tidak stabil untuk sementara waktu, karena dua organisasi atau lebih tersebut memiliki struktur dan manajemen yang berbeda.
-         Join Venture (usaha patungan), merupakan kerja sama dengan suatu perusahaan tertentu untuk menghasilkan keuntungan yang akan dibagi bersama sesuai dengan proporsinya masing-masing.
b.      Akomodasi (Accomodation)
Akomodasi adalah suatu proses antar individu atau kelompok yang sebelumnya saling bertentangan untuk saling melakukan penyesuaian diri agar pertentangan tersebut tidak meluas. Beberapa bentuk akomodasi ialah :
-         Toleransi (tolerant participation), ialah suatu watak atau sifat seseorang atau kelompok yang tidak menginginkan adanya pertentangan. Mereka memahami perbedaan-perbedaan dan turut bersama-sama menjalani kehidupan di dalam perbedaan.
-         Kompromi (Compromise), adalah suatu usaha untuk melakukan pertemuan dan perjanjian yang diharapkan dapat mengurangi pertentangan. Satu pihak dengan pihak lain harus memahami masingmasing kekurangan dan kelebihan, agar kompromi yang disebutkan dapat tercapai.
-         Koersi (Coersion), adalah bentuk akomodasi yang dilakukan dengan paksaan. Artinya, satu pihak harus menduduki posisi yang kuat agar dapat melakukan paksaan terhadap pihak yang lain.
-         Arbitrasi, merupakan bentuk perjanjian yang menggunakan pihak ketig ayang kedudukannya lebih tinggi untuk emnyelesaikan suatu pertentangan. Perjanjian yang dibuat dalam proses arbitrasi berbentuk mengikat kedua belah pihak.
-         Mediasi, ialah bentuk akomodasi yang juga menggunakan pihak ketiga sebagai mediator. Tetapi, perjanjian yang dibuat tidak bersifat mengikat kedua belah pihak.
-         Konsiliasi, merupakan proses yang menghubungakn kedua belah pihak yang bertentangan agar mencapai persetujuan bersama.
-         Ajudikasi, merupakan proses terakhir yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan pertentangan. Proses ajudikasi dilakukan melalui pengadilan.
-         Segregasi, merupakan suatu upaya untuk menghindari dan memisahkan diri dari kelompok-kelompk yang bertentangan, agar terhindar dari konflik yang meluas.
-         Gencatan senjata, adalah suatu proses penangguhan perang atau konflik dalam periode waktu tertentu. Hal ini dilakukan untuk mencari solusi terhadap konflik tersebut.
c.       Akulturasi
Merupakan suatu bentuk interaksi sosial antar kelompok masyarakat yang dihadapkan kepada kebudayaan maupun kebiasaan asing yang masuk ke dalam kehidupan masyarakat tersebut, sehingga masyarakat menerima kebudayaan asing itu. Kebudayaan asing yang dapat diterima ialah kebudayaan dalam bentuk benda atau atau peralatan yang dirasakan bermanfaat dalam menghadapi tuntutan zaman.
Sedangkan kebudayaan asing yang sulit atau bahkan tidak dapat diterima oleh masyarakat ialah kebudayaan asing yang berupa kepercayaan, ideologi atau semacamnya, yang menyangkut prinsip hidup.
d.      Asimilasi
Merupakan suatu upaya untuk menggabungkan atau membaurkan suatu kelompok dengan kelompok lain supaya tercapainya tujuan bersama. Asimilasi dilakukan dengan mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat antar kelompok itu sendiri.
Asimilasi dapat dilakukan dengan mudah apabila terdapat factor-faktor pendukung, seperti adanya sikap toleransi antar kelompok, adanya sikap saling terbuka satu sama lain, serta adanya sikap menghargai orang asing.
Selain fakto rpendukung, adapun factor-faktor penghambat asimilasi ialah adanya isolasi kebudayaan dari slaah satu kelompok, perasaan kelompoknya yang superior (di atas), adanya diskriminasi, dan lain-lain.

2.      Bentuk Disosiatif
Adalah bentuk interaksi sosial yang dapat menimbulkan perpecahan atau bahkan dapat menimbulkan konflik atar kelompk atau individu. Bentuk-bentuk disosiatif antara lain :
a.      Persaingan
Adalah upaya saling berlomba-lomba atau saling bersaing untuk memperoleh tujuan masing-masing tanpa harus menggunakan cara-cara yang diluar batas seperti kekerasan, dan lain-lain.
b.      Kontravensi
Merupakan suatu bentuk atau proses sosial yang berada di antara persaingan dan konflik. Terdapat 5 macam kontravensi, yaitu kontravensi yang bersifat umum (contohnya penolakan, pengacauan), kontravensi yang bersifat sederhana (contohnya seperti memaki-maki, memfitnah), kontravensi yang bersifat intensif (contohnya penghasutan), kontravensi yang bersifat rahasia (seperti berkhianat, mengumumkan rahasia pohak lain), dan kontravensi yang bersifat taktis (seperti intimidasi, provokasi, dan mengganggu pihak lawan).
c.       Konflik
Adalah bentuk interaksi sosial disosiatif dimana suatu individu atau kelompok berusaha untuk mencapai tujuannya dengan cara menggunakan kekerasan atau kecurangan terhadap pihak lawan yang memiliki tujuan yang sama.

loading...


EmoticonEmoticon